Selasa, 12 Mei 2026

Haul Syekh Abdus Somad Al-Palembani

 

MANAQIB PUITIS
Syekh Abdus Samad al-Palimbani
Bismillāhirraḥmānirraḥīm…
Di bumi Sriwijaya yang bertuah,
di tepian Musi yang tenang mengalir,
lahirlah seorang anak zaman—
yang kelak namanya menggema hingga Haramain.
Dialah…
Syekh Abdus Samad al-Palimbani…
Putra dari seorang ayah yang mulia,
Abdurrahman al-Palimbani,
sebagaimana diriwayatkan dalam sanad dan ingatan para alim ulama Palembang,
yang dijaga dalam riwayat,
yang hidup dalam amanah ilmu.
Tahun kelahirannya disebut para peneliti,
sekitar 1737 Masehi,
namun cahayanya…
tidak terikat oleh angka dan masa.
Sejak kecil, ia bukan sekadar anak biasa,
hatinya condong pada Ilahi,
langkahnya ringan menuju majelis ilmu,
dan lisannya basah oleh zikir yang tak putus.
Lalu tibalah saatnya ia berangkat…
meninggalkan tanah kelahiran,
menuju tanah para nabi,
menuju Makkah dan Madinah—
tempat para pencari Tuhan dipertemukan dengan rahasia.
Di sanalah ia duduk bersimpuh,
di hadapan seorang guru agung,
Syekh Muhammad Samman al-Madani,
meneguk ilmu, menyelami hakikat,
hingga jiwanya ditempa dalam suluk yang panjang.
Ia bukan sekadar murid…
ia menjadi pewaris,
menjadi penyambung cahaya,
menjadi bagian dari mata rantai ulama Jawi
yang menjaga agama di ufuk timur dunia.
Dari tangannya lahir karya-karya,
Hidayatus Salikin…
Siyarus Salikin…
bukan sekadar tulisan,
tetapi jalan pulang bagi jiwa-jiwa yang rindu.
Namun wahai hadirin…
kisahnya tidak berhenti di dunia yang tampak.
Tentang wafatnya—
sejarah terdiam…
kitab-kitab tak mampu menjawab dengan pasti…
dan bumi pun seakan enggan menyimpan jasadnya.
Para guru kami meriwayatkan,
sebagaimana disampaikan oleh
Kms. H. Andi Syarifuddin, M.Ag
dalam sambungan ilmu dari para pendahulu,
bahwa…
jasad beliau tiada ditemukan…
seakan hilang bersama ruhnya,
seakan kembali tanpa jejak,
menuju Rabb yang dicintainya.
Maka para arifin berkata:
“burungnya terbang… sangkarnya pun ikut…”
Bukan karena dunia tak mampu menampungnya,
tetapi karena langit lebih merindukannya.
Ia pergi…
tanpa meninggalkan kubur yang pasti,
namun meninggalkan jejak yang abadi.
Ia hilang dari pandangan,
namun hadir dalam setiap zikir,
dalam setiap ratib,
dalam setiap hati yang berjalan menuju Allah.
Wahai Syekh kami…
wahai guru para salik…
wahai pewaris cahaya dari tanah Palembang…
Engkau mungkin tak berjejak di bumi,
namun namamu terukir di langit-langit doa.
Pada malam haul ini,
kami datang bukan sekadar mengenang,
tetapi menyambung…
menyambung cinta,
menyambung sanad,
menyambung jalan menuju Tuhan.
Semoga Allah merahmati beliau,
mengangkat derajatnya di sisi-Nya,
dan mengumpulkan kita kelak…
bersama para wali dan orang-orang saleh.
Āmīn… Yā Rabbal ‘Ālamīn.


===========================================================

MANAQIB SYEKH ABDUS SOMAD AL-PALEMBANI
(Versi Tradisi dan Penelitian Ulama Palembang)
Syekh Abdus Somad al-Palembani adalah salah satu ulama besar Nusantara yang namanya harum di Haramain (Makkah dan Madinah), serta dikenal sebagai bagian dari jaringan ulama Jawi yang berpengaruh pada abad ke-18.
Beliau bukan hanya seorang faqih dan sufi, tetapi juga penulis karya-karya penting dalam bidang tasawuf yang hingga kini masih dipelajari di berbagai pesantren.
Nasab dan Kelahiran
Berdasarkan keterangan yang bersumber dari penelitian alm. KH. Mal’an Abdullah serta riwayat yang disampaikan oleh Kms. H. Andi Syarifuddin, M.Ag, disebutkan bahwa:
- Nama lengkap beliau adalah Syekh Abdus Somad al-Palembani
- Ayah beliau bernama Abdurrahman al-Palembani
Beliau dilahirkan di Palembang, dalam lingkungan keluarga yang memiliki latar belakang keilmuan dan kemuliaan nasab.
Adapun tahun kelahiran beliau, dalam tradisi ini merujuk pada sekitar 1737 M, sebagaimana juga didukung oleh sebagian hasil rekonstruksi penelitian modern berbasis manuskrip.
Sejak kecil, beliau telah menunjukkan kecerdasan, ketekunan dalam menuntut ilmu, serta kecintaan yang besar terhadap agama.
Rihlah Ilmiah dan Guru-Guru
Dalam usia muda, Syekh Abdus Somad al-Palembani melakukan rihlah ilmiah ke Tanah Suci. Di sanalah beliau berguru kepada banyak ulama besar, di antaranya yang paling masyhur adalah:
Syekh Muhammad Samman al-Madani
Dari guru inilah beliau mendapatkan ijazah dan penguatan dalam Tarekat Sammaniyah, serta menjadi bagian dari jaringan ulama besar Nusantara yang dikenal sebagai ulama Jawi.
Beliau juga dikenal sebagai bagian dari “Empat Serangkai Ulama Jawi” yang menimba ilmu di Haramain dan berperan besar dalam penyebaran Islam di Nusantara.
Karya dan Perjuangan
Syekh Abdus Somad al-Palembani meninggalkan sejumlah karya penting, terutama dalam bidang tasawuf, di antaranya:
- Hidayatus Salikin
- Siyarus Salikin
Karya-karya ini merupakan adaptasi dan pengembangan dari pemikiran Imam Al-Ghazali, yang disesuaikan dengan konteks umat Islam di Nusantara.
Selain sebagai ulama dan penulis, beliau juga dikenal memiliki semangat perjuangan melawan penjajahan, serta memberikan dorongan spiritual bagi umat Islam untuk mempertahankan agama dan tanah air.
Wafat dan Misteri yang Menyelimuti
Tentang wafatnya Syekh Abdus Somad al-Palembani, hingga kini masih menjadi misteri dan perbincangan di kalangan ulama dan peneliti.
Dalam kajian sejarah, tidak ditemukan data pasti mengenai :
- waktu wafat yang definitif
- lokasi makam beliau.
Namun dalam tradisi yang berkembang di kalangan ulama Palembang, sebagaimana disampaikan oleh Kms. H. Andi Syarifuddin, M.Ag, terdapat keyakinan bahwa :
- jasad beliau tidak ditemukan dan hilang bersama ruhnya
Ungkapan yang sering digunakan dalam tradisi sufistik adalah :
“burungnya terbang, sangkarnya ikut”
Makna dari ungkapan ini menunjukkan derajat kewalian yang tinggi, di mana wafatnya seorang hamba pilihan Allah terjadi dalam keadaan yang penuh kemuliaan dan menjadi rahasia Ilahi.
Pandangan ini tidak semata-mata dimaknai secara fisik, tetapi juga sebagai simbol kedekatan seorang wali kepada Allah SWT.
Penutup
Syekh Abdus Somad al-Palembani adalah warisan besar bagi Palembang dan Nusantara. Beliau bukan hanya seorang ulama, tetapi juga :
- penghubung keilmuan antara Nusantara dan Haramain
- penjaga tradisi tasawuf Ahlussunnah wal Jama’ah
- serta simbol kejayaan intelektual Islam di bumi Sriwijaya
Perbedaan pendapat mengenai detail biografi beliau merupakan bagian dari kekayaan khazanah sejarah.
Oleh karena itu, penting bagi generasi hari ini untuk :
- menjaga adab dalam menyikapi perbedaan
- serta terus menggali sumber-sumber lokal yang otentik
Sebagaimana pepatah ulama:
“Al-ilmu yuhfaẓu bil isnad”
Ilmu itu dijaga melalui sanadnya
Dan Palembang memiliki sanad itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Haul Syekh Abdus Somad Al-Palembani

  MANAQIB PUITIS Syekh Abdus Samad al-Palimbani Bismillāhirraḥmānirraḥīm… Di bumi Sriwijaya yang bertuah, di tepian Musi yang tenang mengali...