MANAQIB Datu Nuraya ( Syekh Abdul Mu'in )
Tak banyak memang masyarakat yang mengenal Datu Nuraya yang mempunyai nama (sebagian riwayat menyebutkan nama beliau yang sebenarnya adalah Syekh Abdul Jabbar) atau juga Syeikh Abdurrauf tetapi legenda tentang Datu Nuraya masih tersimpan dengan rapi dalam cerita masyarakat sehari-hari khususnya di daerah Tatakan Rantau Kabupaten Tapin.
Siapa sebenarnya Datu Nuraya dan apakah semasa hidupnya dia memang memiliki tubuh yang besar bagai raksasa hingga makamnya mencapai 50 meter lebih ?...itulah misterinya, namun dari cerita-cerita yang berkembang di sana disebut sebut Datu Nuraya memang memiliki tubuh yang teramat besar, ihwal legenda ini seperti pada kisah terdahulu tentang DATU SUBAN, beliau adalah seorang guru dari sekalian Datu-Datu yang ada di Rantau, seorang guru yang miskin harta tapi sangat dalam dan tinggi ilmu tasawufnya serta dikenal sebagai orang yg kasyaf, tinggalnya di Munggu Tayuh Tiwadak Gumpa Tatakan dekat liang macan.
Pada saat lebaran atau hari raya Datu Suban yang pada saat itu bersama para muridnya ketika mereka sedang asyik-syiknya menikmati makanan yang disediakan oleh tuan rumah, tiba-tiba datang seorang yang bertubuh sangat besar, serta merta mereka terkejut dan segera mengambil tombak dan parang untuk menghadang orang besar tersebut.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.." kata orang besar tersebut.
"Wa'alaykum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh" jawab para Datu.
lalu Datu Suban menerangkan kepada para Datu yang hadir bahwa orang yang datang sambi memberi salam Insya Allah akan berniat baik.
"Maaf siapa saudara yang datang dan dari mana asal saudara serta apa maksud saudara?" tanya Datu Suban, anehnya si raksasa tersebut menjawab dengan zikir "La Ilaaha Illallah", dan zikir tersebut diulang tiap kali Datu Suban bertanya sampai 7 kali, kemudian orang tersebut ambruk ke tanah, lalu para Datu menghampiri orang itu dan memeriksanya, ternyata orang tersebut sudah meninggal dunia, maka serempak para Datu mengucapkan "Innaa lillahi Wainna ilahi Rajiuun".
Melihat keadaan tersebut para Datu tadi bingung bagaimana memandikannya dan menguburkannya, untuk mengangkat saja jadi masalah, apalagi pada waktu itu kemarau panjang, biasanya tanah sangat keras sedangkan lubang untuk kuburan harus dibuat sangat panjang dan lebar, dan untuk memandikannya diperlukan air yang sangat banyak, konon pada saat para Datu kebingungan tiba-tiba hujan lebat turun dengan derasnya dan ketika mereka mengangkat tubuh tersebut sangatlah ringannya seperti sehelai kapas, serentak para Datu berseru "Subhanallah".
Sebelum para Datu mewaradunya (membersihkan) mayat itu, Datu Suban menemukan sebuah selepang (tas) dari dalam pakaiannya, setelah dibuka ternyata di dalamnya terdapat sebuah kitab yang sangat terkenal kini dengan nama Kitab Barencong, para Datu berbagi tugas ada yang memandikannya, ada yang mencari batu gunung untuk nisan dan ada yang membikin lubang untuk kuburan tersebut, konon lubang yang digali tidak mencukupi untuk mengubur terpaksa orang tersebut dilipat hamzah kakinya.
Tepat 7 hari maarwahi orang besar tersebut maka berkumpullah semua Datu di rumah Datu Taming Karsa di Simpang Tiga Tandui Baruh Hariyung yang dinamakan Pamatang Gintungan Misan Batu, disanalah Datu Suban mulai membuka kitab peninggalan yang didapat dari orang besar tersebut dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim lalu dibuka kitab tersebut oleh Datu Suban lembar demi lembar hingga selesai, ternyata isi kitab tersebut mengandung bermacam-macam ilmu, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat, konon setelah kitab tersebut turun kepada Datu Sanggul kemudian diturunkan lagi kepada saudara angkatnya yaitu Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan disimpan keturunan beliau hingga saat ini.
Atas saran dari Datu Labai Duliman yang ahli falakiah orang besar tersebut dinamakan NURAYA, karena orang tersebut datang pada hari raya dan sesuai dengan badannya yang besar dan tinggi seperti RAYA, Datu Nuraya berasal dari dua kata NUR dan RAYA ... NUR dalam bahasa arabnya cahaya, sedangkan RAYA artinya luas jadi NURAYA artinya pembawa cahaya dan sinar serta lmu yg luas seperti Raya, sampai sekarang makam dari Datu Nuraya ramai diziarahi orang karena keanehan dan kekeramatannya dan merupakan makam terpanjang di dunia letaknya di daerah Tatakan Rantau Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber:
Sebelum para Datu mewaradunya (membersihkan) mayat itu, Datu Suban menemukan sebuah selepang (tas) dari dalam pakaiannya, setelah dibuka ternyata di dalamnya terdapat sebuah kitab yang sangat terkenal kini dengan nama Kitab Barencong, para Datu berbagi tugas ada yang memandikannya, ada yang mencari batu gunung untuk nisan dan ada yang membikin lubang untuk kuburan tersebut, konon lubang yang digali tidak mencukupi untuk mengubur terpaksa orang tersebut dilipat hamzah kakinya.
Tepat 7 hari maarwahi orang besar tersebut maka berkumpullah semua Datu di rumah Datu Taming Karsa di Simpang Tiga Tandui Baruh Hariyung yang dinamakan Pamatang Gintungan Misan Batu, disanalah Datu Suban mulai membuka kitab peninggalan yang didapat dari orang besar tersebut dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim lalu dibuka kitab tersebut oleh Datu Suban lembar demi lembar hingga selesai, ternyata isi kitab tersebut mengandung bermacam-macam ilmu, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat, konon setelah kitab tersebut turun kepada Datu Sanggul kemudian diturunkan lagi kepada saudara angkatnya yaitu Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan disimpan keturunan beliau hingga saat ini.
Atas saran dari Datu Labai Duliman yang ahli falakiah orang besar tersebut dinamakan NURAYA, karena orang tersebut datang pada hari raya dan sesuai dengan badannya yang besar dan tinggi seperti RAYA, Datu Nuraya berasal dari dua kata NUR dan RAYA ... NUR dalam bahasa arabnya cahaya, sedangkan RAYA artinya luas jadi NURAYA artinya pembawa cahaya dan sinar serta lmu yg luas seperti Raya, sampai sekarang makam dari Datu Nuraya ramai diziarahi orang karena keanehan dan kekeramatannya dan merupakan makam terpanjang di dunia letaknya di daerah Tatakan Rantau Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber:
-Manakib Datu Suban
-Manakib Datu Sanggul
-Riwayat Datu Datu Kalimantan Selatan
-Manakib Datu Sanggul
-Riwayat Datu Datu Kalimantan Selatan