Minggu, 09 Agustus 2026

Manaqib Datuk Nuraya (Pembawa Kitab Barencong)

 

MANAQIB Datu Nuraya ( Syekh Abdul Mu'in )






Tak banyak memang masyarakat yang mengenal Datu Nuraya yang mempunyai nama  (sebagian riwayat menyebutkan nama beliau yang sebenarnya adalah Syekh Abdul Jabbar) atau juga Syeikh Abdurrauf tetapi legenda tentang Datu Nuraya masih tersimpan dengan rapi dalam cerita masyarakat sehari-hari khususnya di daerah Tatakan Rantau Kabupaten Tapin.

Siapa sebenarnya Datu Nuraya dan apakah semasa hidupnya dia memang memiliki tubuh yang besar bagai raksasa hingga makamnya mencapai 50 meter lebih ?...itulah misterinya, namun dari cerita-cerita yang berkembang di sana disebut sebut Datu Nuraya memang memiliki tubuh yang teramat besar, ihwal legenda ini seperti pada kisah terdahulu tentang DATU SUBAN, beliau adalah seorang guru dari sekalian Datu-Datu yang ada di Rantau, seorang guru yang miskin harta tapi sangat dalam dan tinggi ilmu tasawufnya serta dikenal sebagai orang yg kasyaf, tinggalnya di Munggu Tayuh Tiwadak Gumpa Tatakan dekat liang macan.

Pada saat lebaran atau hari raya Datu Suban yang pada saat itu bersama para muridnya ketika mereka sedang asyik-syiknya menikmati makanan yang disediakan oleh tuan rumah, tiba-tiba datang seorang yang bertubuh sangat besar, serta merta mereka terkejut dan segera mengambil tombak dan parang untuk menghadang orang besar tersebut.

"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.." kata orang besar tersebut.

"Wa'alaykum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh" jawab para Datu.

lalu Datu Suban menerangkan kepada para Datu yang hadir bahwa orang yang datang sambi memberi salam Insya Allah akan berniat baik.

"Maaf siapa saudara yang datang dan dari mana asal saudara serta apa maksud 
saudara?" tanya Datu Suban, anehnya si raksasa tersebut menjawab dengan zikir "La Ilaaha Illallah", dan zikir tersebut diulang tiap kali Datu Suban bertanya sampai 7 kali, kemudian orang tersebut ambruk ke tanah, lalu para Datu menghampiri orang itu dan memeriksanya, ternyata orang tersebut sudah meninggal dunia, maka serempak para Datu mengucapkan "Innaa lillahi Wainna ilahi Rajiuun".

Melihat keadaan tersebut para Datu tadi bingung bagaimana memandikannya dan menguburkannya, untuk mengangkat saja jadi masalah, apalagi pada waktu itu kemarau panjang, biasanya tanah sangat keras sedangkan lubang untuk kuburan harus dibuat sangat panjang dan lebar, dan untuk memandikannya diperlukan air yang sangat banyak, konon pada saat para Datu kebingungan tiba-tiba hujan lebat turun dengan derasnya dan ketika mereka mengangkat tubuh tersebut sangatlah ringannya seperti sehelai kapas, serentak para Datu berseru "Subhanallah".

Sebelum para Datu mewaradunya (membersihkan) mayat itu, Datu Suban menemukan sebuah selepang (tas) dari dalam pakaiannya, setelah dibuka ternyata di dalamnya terdapat sebuah kitab yang sangat terkenal kini dengan nama Kitab Barencong, para Datu berbagi tugas ada yang memandikannya, ada yang mencari batu gunung untuk nisan dan ada yang membikin lubang untuk kuburan tersebut, konon lubang yang digali tidak mencukupi untuk mengubur terpaksa orang tersebut dilipat hamzah kakinya.

Tepat 7 hari maarwahi orang besar tersebut maka berkumpullah semua Datu di rumah Datu Taming Karsa di Simpang Tiga Tandui Baruh Hariyung yang dinamakan Pamatang Gintungan Misan Batu, disanalah Datu Suban mulai membuka kitab peninggalan yang didapat dari orang besar tersebut dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim lalu dibuka kitab tersebut oleh Datu Suban lembar demi lembar hingga selesai, ternyata isi kitab tersebut mengandung bermacam-macam ilmu, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat, konon setelah kitab tersebut turun kepada Datu Sanggul kemudian diturunkan lagi kepada saudara angkatnya yaitu Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan disimpan keturunan beliau hingga saat ini.

Atas saran dari Datu Labai Duliman yang ahli falakiah orang besar tersebut dinamakan NURAYA, karena orang tersebut datang pada hari raya dan sesuai dengan badannya yang besar dan tinggi seperti RAYA, Datu Nuraya berasal dari dua kata NUR dan RAYA ... NUR dalam bahasa arabnya cahaya, sedangkan RAYA artinya luas jadi NURAYA artinya pembawa cahaya dan sinar serta lmu yg luas seperti Raya, sampai sekarang makam dari Datu Nuraya ramai diziarahi orang karena keanehan dan kekeramatannya dan merupakan makam terpanjang di dunia letaknya di daerah Tatakan Rantau Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber:
-Manakib Datu Suban
-Manakib Datu Sanggul
-Riwayat Datu Datu Kalimantan Selatan

Manaqib Datuk Suban (Gurunya Datuk Sanggul)

 

MANAQIB Datuk Suban


Datuk Suban sering disebut juga Datuk Sya'iban Ibnu Zakaria Zulkifli dengan ibunda bernama Maisyarah, beliau hidup di Kampung Muning Tatakan Kabupaten Tapin Rantau Kalimantan Selatan, beliau semasa hidupnya mempunyai martabat tinggi dan mulia, peramah dan paling disegani yang patut diteladani oleh kita sebagai penerus dan pewaris yang hidup di abad modern ini.

Datuk Suban adalah guru dari semua datuk Orang Muning, selain ahli ilmu tasawuf, Datuk Suban juga ahli ilmu taguh (kebal), ilmu kabariat, ilmu dapat berjalan di atas air, ilmu maalih rupa, ilmu pandangan jauh, ilmu pengobatan, ilmu kecantikan, ilmu falakiah, ilmu tauhid dan ilmu firasat, dengan ilmu yang dimilikinya banyaklah orang yang menuntut ilmu kepada beliau, dan yang paling terkenal ada 13 orang..

1. Datu Murkat
2. Datu Taming Karsa
3. Datu Niang Thalib
4. Datu Karipis
5. Datu Ganun
6. Datu Argih
7. Datu Ungku
8. Datu Labai Duliman
9. Datu Harun
10. Datu Arsanaya
11. Datu Rangga
12. Datu Galuh Diang Bulan
13. Datu Sanggul

Di antara ilmu-ilmu yang selalu diajarkan dalam setiap kesempatan, beliau selalu mengajarkan ilmu mengenal diri (ilmu ma'rifat) dengan tarekat memusyahadahkan Nur Muhammad, hal ini tidaklah mengherankan karena sebelum Datu Suban mengajarkan ajaran makrifat melalui Tarekat Nur Muhammad ini, seorang ulama Banjar yaitu Syekh Ahmad Syamsuddin Al-Banjari telah menulis asal kejadian Nur Muhammad itu, yang naskahnya ditemukan oleh seorang orientalis bangsa Belanda R.O.Winested.

Datuk Suban dikenal sebagai Wali Allah, beliau memiliki karamah kasyaf yaitu terbukanya tabir rahasia bagi beliau sehingga dapat mengetahui sampai dimana kemampuan murid-muridnya dalam menerima ilmu-ilmu yang diberikannya, seperti akan menyerahkan kitab pusaka yang kemudian hari dinamakan Kitab Barencong, Kitab tersebut beliau serahkan kepada Datuk Sanggul (Abdussamad), murid terakhir yang belajar kepada beliau, menurut pandangan kasyaf beliau, hanya Abdussamad lah yang dapat menerima, mengamalkan dan mengajarkannya, karamah beliau yang lain, beliau mengetahui ketika akan tiba ajalnya, ketika dari mata beliau keluar sebuah sosok yang rupanya sangat bagus, bercahaya dan berpakaian hijau, ini berarti tujuh hari lagi beliau akan berpindah alam, empat hari kemudian dari tubuh datuk Suban keluar lagi cahaya berwarna putih amat cemerlang, besarnya sama dengan tubuh beliau dan berbau harumsemerbak, ini berarti tiga hari lagi beliau akan meninggalkandunia fana ini, oleh karena itu beliau segera mengumpulkan semua murid-muridnya, setelah semua muridnya berkumpul, beliau berkata ; "Murid-murid yang aku cintai, kalian jangan terkejut dengan panggilan mendadak ini, karena pertemuan kita hanya hari ini saja lagi, nanti malam sekitar jam satu tengah malam aku akan meninggalkan dunia yang fana ini, hal ini sudah tidak bisa ditunda-tunda lagi, karena ketentuan Allah telah berlalu."

Kemudian beliau membacakan firman Allah surat An-Nahal ayat 61 yang berbunyi : "Apabila sudah tiba waktu yang ditentukan maka tidak seorangpun yang dapat mengundurkannya dan juga tidak ada yang dapat mendahulukannya."

mendengar ucapan beliau itu semua yang hadir diam membisu seribu bahasa.

"Nah, waktuku hampir tiba," kata Datuk Suban memecah kesunyian itu.

"Mari kita berzikir bersama-sama untuk mengantarkan kepergianku" kata datuk Suban lagi.

Semua murid dipimpin oleh beliau serentak mengucapkan zikir "Hu Allah..... Hu Allah..... Hu Allah...."

"Perhatikanlah.... apabila aku turun kurang lebih 40 hasta sampai pada batu berwarna merah sebelah dan hitam sebelah, aku berdiri di sana nanti, maka pandanglah aku dengan sebenar-benarnya, yang ada ini atau yang tiada nanti, lihatlah aku ada atau tiada, kalau ada masih diriku ini tidak menjadi tiada, berarti ilmu yang kuajarkan kepada kalian belum sejati, tetapi bila aku menjadi tiada berarti ilmu yang kuajarkan kepada kalian adalah ilmu sejati dan sempurna.

Setelah berkata demikian beliau diam, kemudian meletuslah badan Datuk Suban dan timbul asap putih, hilang adap putih timbul cahaya (nur) yang memancar-mancar sampai ke atas ufuk yang tinggi, kemudian lenyap ditelan kemunculan cahaya rembulan.

Semua yang hadir takjub menyaksikan kejadian itu, kemudian terdengar gemuruh ucapan murid-murid beliau.... Inna lillahi wainna ilaihi rooji'uun.

***********************************************************************************
sumber:
- manakib Datuk Suban dan para Datu
- cerita Datu-datu terkenal Kalimantan Selatan
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Syair Syekh Datuk Suban



Manaqib Datuk Nuraya (Pembawa Kitab Barencong)

  MANAQIB Datu Nuraya ( Syekh Abdul Mu'in ) Tak banyak memang masyarakat yang mengenal Datu Nuraya yang mempunyai nama  (sebagian riwaya...