JAS HIJAU
Bung Karno pernah mewariskan sebuah api kesadaran yang tidak pernah kehilangan relevansinya hingga hari ini: “JASMERAH — Jangan Sekali-sekali Meninggalkan Sejarah.” Kalimat itu bukan sekadar slogan politik yang lahir di tengah hiruk-pikuk revolusi, melainkan sebuah peringatan ontologis agar bangsa ini tidak mengalami disorientasi identitas. Sejarah adalah cermin. Dan bangsa yang memecahkan cerminnya sendiri akan berjalan tanpa wajah, kehilangan kompas moral, lalu perlahan kehilangan hak atas masa depannya.
Dalam napas perjuangan yang sama, kaum santri menghadirkan satu seruan ruhani yang tak kalah mendalam: “JAS HIJAU — Jangan Sekali-sekali Hilangkan Jasa Ulama.” Kalimat ini bukan romantisme emosional semata, melainkan sebuah counter-culture terhadap amnesia sejarah yang kini mulai menggerogoti kesadaran umat. Sebab bangsa yang memutus mata rantai sanad perjuangan dari para ulamanya ibarat kapal yang memutus tali jangkar: tampak bergerak, tetapi sejatinya sedang hanyut tanpa arah di tengah samudra zaman.
Hari ini, kita sedang hidup di era yang sangat bising oleh informasi, tetapi sunyi dari hikmah. Nama-nama selebriti lebih cepat dikenal dibanding nama para ulama. Konten hiburan lebih mudah viral dibanding kisah perjuangan para santri. Generasi muda hafal wajah para influencer, tetapi mulai asing terhadap sosok-sosok wali yang dahulu menanamkan Islam di bumi Nusantara dengan air mata, akhlak, dan cinta. Inilah tragedi peradaban yang paling menyakitkan: ketika umat mulai kehilangan rasa hormat kepada sumber cahaya yang dahulu menerangi jalannya sendiri.
Padahal jika sejarah dibaca dengan hati yang jernih, bangsa ini sesungguhnya tidak hanya dibangun oleh diplomasi politik dan kekuatan senjata. Indonesia juga ditegakkan oleh dzikir para ulama, oleh doa-doa panjang para kiai, oleh tirakat para santri, dan oleh darah para syuhada yang maju ke medan perang dengan keyakinan bahwa membela tanah air adalah bagian dari iman. Peristiwa 10 November di Surabaya bukanlah insiden spontan yang lahir dari ledakan emosi massa semata. Ia adalah manifestasi nyata dari kepatuhan santri terhadap fatwa ulama. Resolusi Jihad yang dideklarasikan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 menjadi nyala api yang menggerakkan ribuan santri untuk mempertahankan kemerdekaan dengan nyawa mereka sendiri.
Mereka berangkat ke medan perjuangan bukan demi popularitas, bukan demi kekuasaan, dan bukan pula demi keuntungan duniawi. Mereka sadar bahwa peluru dapat merobek dada mereka kapan saja. Mereka tahu mungkin tidak akan pernah kembali ke rumah. Namun mereka tetap melangkah dengan kalimat tauhid yang bergetar di dalam hati. Sebab bagi para santri dan ulama dahulu, cinta tanah air bukan sekadar nasionalisme kosong, melainkan bagian dari mahabbah kepada Allah dan bentuk pengabdian kepada amanah sejarah.
Sayangnya, historiografi resmi bangsa ini sering kali terjebak dalam narasi militeristik. Nama-nama besar ditulis dengan tinta emas, sementara peran ulama dan santri hanya ditempatkan dalam “catatan kaki” yang samar. Bahkan lebih menyedihkan lagi, hari ini muncul berbagai upaya dekonstruksi sejarah yang mencoba mengerdilkan peran Wali Songo dengan menyebutnya sebagai mitos, legenda, atau sekadar fiksi sosiologis. Ini bukan sekadar perdebatan akademik biasa. Ini adalah bentuk epistemic violence — kekerasan intelektual yang berusaha mencabut akar spiritual Islam dari bumi Nusantara.
Mereka yang mencemooh sejarah ulama sebagai “dongeng” sejatinya sedang terjebak dalam liberalisme sejarah yang keliru: menganggap kebebasan berpikir sebagai izin untuk menghapus jati diri. Padahal jika logika itu dipakai secara konsisten, maka Resolusi Jihad pun bisa dianggap sebagai cerita fiksi, dan darah ribuan santri di Surabaya hanyalah tinta merah tanpa makna. Menolak sejarah perjuangan ulama sesungguhnya bukan hanya pengkhianatan terhadap agama, tetapi juga pengkhianatan terhadap akal sehat sosiologis.
Dalam perspektif tasawuf, manusia yang kehilangan hubungan dengan sejarah para ulama akan mengalami kekosongan ruhani yang sangat dalam. Sebab ulama bukan hanya pewaris ilmu, melainkan pewaris cahaya kenabian. Mereka adalah penjaga adab ketika dunia mulai mabuk oleh kesombongan intelektual. Tasawuf mengajarkan bahwa kehancuran terbesar manusia bukanlah kemiskinan materi, melainkan keterputusan hati dari cahaya Ilahi. Dan salah satu jalan menuju cahaya itu adalah mencintai orang-orang saleh yang telah mengorbankan hidupnya demi menjaga agama dan umat.
Al-Imam al-Munawi dalam kitab Faidl al-Qadir Jilid III halaman 564 menegaskan:
“Thalabul ‘ilmi bima yarfa’ul jahla wajib, wa minhu ma’rifatu ahwalis salafish shalihin wa akhbaril ‘ulama’il ‘amilin.”
“Mencari ilmu yang dapat mengangkat kebodohan adalah wajib, dan di antaranya adalah mengenal ihwal para Salafush Shalihin serta sejarah para ulama yang mengamalkan ilmunya.”
Perkataan ini menunjukkan bahwa mengenal sejarah ulama bukan sekadar aktivitas nostalgia atau romantisme masa lalu. Ia adalah bagian dari kewajiban intelektual dan spiritual agar manusia tidak terjatuh ke dalam kebodohan sejarah dan kekeringan jiwa. Sebab sejarah para ulama bukan hanya berisi cerita perjuangan, tetapi juga pelajaran tentang keikhlasan, pengorbanan, kesabaran, dan keteguhan dalam menjaga iman di tengah badai zaman.
Hal yang sama ditegaskan oleh Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam kitab Al-Mafahim Yajibu An Tushohha halaman 211:
“Ihya’u dzikril ‘ulama’i wad difa’u ‘anhum min furudhil kifayah, wa qad yashiru fardha ‘ainin idza khifa inditsarul haqq.”
“Menghidupkan penyebutan jasa para ulama serta membela mereka termasuk fardhu kifayah, bahkan bisa menjadi fardhu ‘ain jika dikhawatirkan hilangnya kebenaran.”
Betapa dalam makna kalimat ini. Membela ulama bukan fanatisme buta, melainkan usaha menjaga cahaya kebenaran agar tidak dipadamkan oleh fitnah zaman. Ketika ulama dihancurkan citranya, umat akan kehilangan arah. Ketika sanad keilmuan diputus, manusia akan merasa cukup dengan akalnya sendiri. Dan ketika manusia hanya mengandalkan akal tanpa adab dan ruhani, maka lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual tetapi rapuh secara spiritual.
Hari ini kita menyaksikan fenomena itu di mana-mana. Teknologi semakin maju, tetapi manusia semakin gelisah. Informasi semakin melimpah, tetapi hati semakin kosong. Media sosial dipenuhi tawa dan hiburan, tetapi diam-diam banyak jiwa kehilangan makna hidup. Manusia modern tampak kuat di luar, namun sesungguhnya rapuh di dalam. Mereka sibuk mencari validasi manusia, tetapi lupa mencari ridha Allah. Mereka mengejar popularitas dunia, tetapi kehilangan ketenangan jiwa.
Dalam ilmu hakikat dan ma’rifat, keterputusan manusia dari para pewaris nabi akan melahirkan kehampaan batin yang tidak dapat diisi oleh materi apa pun. Jabatan tidak mampu membeli ketenangan. Kekayaan tidak mampu menyembuhkan kegelisahan. Popularitas tidak mampu mengobati kehampaan ruhani. Sebab ruh manusia hanya akan hidup jika dekat dengan cahaya Allah, sedangkan para ulama adalah jalan yang menunjukkan manusia menuju cahaya itu.
Karena itulah para wali dahulu berdakwah bukan dengan kebencian, melainkan dengan kasih sayang. Mereka tidak menaklukkan Nusantara dengan pedang, tetapi dengan akhlak. Mereka memahami bahwa hati manusia tidak bisa dibuka dengan kekerasan, melainkan dengan cinta. Islam tumbuh di Nusantara dengan kelembutan para wali, dengan kebijaksanaan para kiai, dan dengan keteladanan para santri yang menjaga adab di atas ilmu.
Namun hari ini, sebagian manusia justru ingin memutus semua mata rantai itu. Mereka ingin generasi muda malu menjadi santri. Mereka ingin pesantren dianggap kuno dan tidak relevan. Mereka ingin ulama kehilangan kewibawaan di mata umat. Sebab mereka sadar, selama umat masih mencintai ulama, selama itu pula cahaya spiritual tidak akan pernah benar-benar padam dari bumi Nusantara.
Dalam Fatawa al-Azhar halaman 262 dan Dalil al-Falihin Jilid III halaman 203 ditegaskan bahwa menjaga sejarah perjuangan umat merupakan bagian dari menjaga syu’ur al-ummah atau kesadaran kolektif umat agar tidak runtuh di hadapan narasi asing. Ini berarti perang terbesar hari ini bukan hanya perang ekonomi atau politik, melainkan perang memori dan perang identitas. Siapa yang menguasai sejarah, maka ia akan menguasai arah kesadaran generasi masa depan.
Karena itu, tuduhan bahwa semangat kembali kepada perjuangan ulama adalah bentuk “radikalisme” sesungguhnya perlu dijawab dengan kejernihan berpikir. Kata radikal berasal dari kata radix yang berarti akar. Maka benar, kita memang harus radikal dalam arti kembali kepada akar perjuangan bangsa dan akar spiritual umat. Ironisnya, banyak orang yang ingin pohon bangsa ini tetap tegak, tetapi membiarkan akarnya lapuk dimakan rayap disinformasi dan kebencian terhadap sejarah sendiri.
JASMERAH dan JAS HIJAU sejatinya adalah dua cahaya yang saling berkelindan. JASMERAH menjaga kedaulatan negara dan identitas kebangsaan, sedangkan JAS HIJAU menjaga ruh spiritual umat dan kesadaran religius bangsa. Keduanya tidak boleh dipisahkan. Nasionalisme tanpa spiritualitas akan melahirkan kekuasaan yang kering dan arogan, sedangkan religiusitas tanpa cinta tanah air akan melahirkan keterasingan sosial yang kehilangan pijakan sejarah.
Bangsa ini membutuhkan keduanya sekaligus. Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas berpikir, tetapi juga tunduk hatinya kepada Allah. Generasi yang tidak malu menjadi santri di tengah budaya glamoritas dunia modern. Generasi yang mampu menangis di hadapan Allah ketika dunia sibuk menertawakan dosa. Generasi yang sadar bahwa kemajuan tanpa adab hanyalah bentuk lain dari kehancuran yang dipercepat.
Jangan sampai anak-anak negeri ini tumbuh tanpa mengenal nama ulama yang dahulu menjaga Indonesia dengan doa dan darah mereka. Jangan biarkan pesantren kehilangan kemuliaannya di mata umat. Jangan biarkan sejarah ditulis hanya oleh mereka yang membenci akar spiritual bangsa ini. Sebab ketika jasa ulama dihilangkan, sesungguhnya yang sedang dihapus bukan hanya nama para kiai dan wali, melainkan juga cahaya yang dahulu membuat bangsa ini tetap hidup.
Dan jika cahaya itu benar-benar padam, mungkin kita masih bisa berdiri sebagai sebuah negara. Namun sebagai peradaban, kita sesungguhnya telah lama mati.
GUS IMAM

Tidak ada komentar:
Posting Komentar