Rabu, 17 Desember 2025
Menghidupkan Kembali Warisan Sejarah dan Budaya Palembang
Bencana Ekologis Akibat Deforestasi : " Saat Hutan Pergi, Air Datang Tanpa Permisi
"Saat Hutan Pergi, Air Datang Tanpa Permisi"
Di bawah langit kelabu Sumatra
air meluap tanpa jeda,
menyapu rumah, memutus asa—
Aceh menangis, Sumatra Utara tercekik tanah,
Sumatra Barat merintih dalam lumpur dan duka.
Bukan sekadar hujan yang turun,
ini air mata bumi yang tak sanggup lagi memikul luka.
Tajuk-tajuk pohon hilang meretas cakrawala,
diganti barisan sawit berakar dangkal,
lubang tambang yang menganga,
dan jalan logging yang memotong urat nadi hutan.
Ketika hutan ditebang,
bukit kehilangan pegangan,
tanah merosot, air merangsek,
dan pada akhirnya, manusia yang tumbang.
Takdir alam bukan terjadi mendadak,
ia dibentuk dari keputusan,
yang lahir dari rakus dan diam.
Bencana hari ini adalah tulisan tangan kita sendiri
yang tak lagi peduli pada hikayat daun dan akar.
Maka dengarlah…
waktunya hutan dipulihkan,
bukannya sekadar ditanam, tapi dihidupkan;
waktunya tambang dihentikan,
dan sungai diberi ruang untuk bernapas.
Sebelum tanah benar-benar habis bicara,
dan air mengambil semua yang tidak lagi kita jaga.
๐ฟ
Selamatkan hutan adalah selamatkan manusia.
Membela alam adalah membela masa depan.
#puisialam #puisibencanaekologis
#daruratekologis #fyp #fypviral
Sabtu, 22 November 2025
Syair Perang Menteng (Kisah Perang Palembang)
Berikut versi syair panjang (lebih dari 50 bait) tentang (Perang Menteng) — disusun dalam gaya klasik Melayu-Palembang, bernuansa tasawuf, spiritual, dan heroik. Syair ini memadukan sejarah, ruh ratib Samman, kisah Datuk Muhammad Zein, dan semangat jihad para mujahid Palembang.
---
SYAIR PERANG MENTENG
1
Bismillah mula kata bersyair,
kisah mujahid kukisah lahir,
agar generasi tak jadi fakir,
dari sejarah yang makin kian getir.
2
Tersebutlah kisah di bumi Palembang,
Musi beralun tenang dan terang,
datanglah Menteng membawa perang,
hendak menunduk Sultan yang garang.
3
Tahun seribu delapan ratus sembilan belas,
mentari murung seolah membalas,
dentum meriam memecah pusat,
istana Kuto Besak jadi saksi keras.
4
Datuk Muhammad Zein panggilan khalifah,
ahli ratib, pejuang tanpa lelah,
menantu Syekh Abdus Shomad berubudiyah,
tegak di medan dengan hati pasrah.
5
Malam sunyi ratib Samman dilafaz,
di surau Kampung 16 Ilir suara tak terbatas,
“Allฤh… Allฤh…” jadi pedang tebas,
membelah takut sebelum senjata dilepas.
6
Para santri menutup kepala,
mengenakan jubah tak henti bersela,
tekad syahid memenuhi dada,
mati mulia atau hidup hamba.
7
“La khaula wa la quwwata,” jadi senjata,
hati terpancang pada yang Maha Kuasa,
meski Menteng datang berkuasa,
semangat ratib tak pernah sirna.
8
Serdadu Belanda angkuh menyapa,
membawa kapal dan senjata rupa,
namun tak kenal takut di dada,
rakyat Palembang siap menyapa.
9
Di tepi Musi pasukan berbaris,
dengan salam dan takbir yang manis,
Datuk Zen bertakhtim garis,
“Siapa gentar, mundur ke daris!”
10
Meski peluru menghantam dada,
ratib tetap menggema jua,
para perempuan menitik air mata,
namun tak biarkan perjuangan sirna.
11
Syekh Abdus Shomad di tepian surau,
bentang sajadah, mengangkat doa syahdu,
“Ya Rabb, jadikan darah mereka padu,
di taman Jannah Engkau hibur selalu.”
12
Malam gelita sinar pelita,
dipadu zikir sang pembawa berita,
“Menteng menyerang dari arah kota,
esok subuh perang memuncak nyata.”
13
Maka Datuk Zen segera berbicara,
“Siapkan hati sebelum tombak dijara,
mati bagiku hanya giliran biasa,
hidup sejati bila Tuhan bersuara.”
14
Ratib Samman menggulung ruang,
para mujahid larut dalam bayang,
tak terasa malam jadi hilang,
fajar datang membawa gamang.
15
Dentuman meriam menggetar bumi,
namun zikir tetap tak berhenti,
“Allฤh…” menembus setiap hati,
menjelma pedang dari langit tinggi.
16
Pasukan Menteng masuk ke darat,
mengira mudah menunduk rakyat,
tapi disambut tombak dan semangat,
“Allฤhu Akbar!” mereka terperanjat.
17
Darah mengalir laksana sungai,
tuan lihat Palembang tak mengeluh sungguh ai,
perjuangan bukan milik seorang sahaja hai,
tapi amanah para wali sejak awal mulai.
18
Datuk Zen maju memukul meriam,
peluru terlepas, musuh pun diam,
meski tertembus surai dan piam,
beliau tersenyum dalam kalam.
19
“Inilah saatku pulang pada Tuhan,”
katanya perlahan sebelum rebah ke tanah,
aroma kasturi menyapu langit aman,
tubuh jatuh, ruh naik dengan tenang.
20
Maka gegap gempita seluruh markas,
para mujahid bertambah keras,
“Datuk gugur, jangan takut dikuas,”
perang dilanjut sampai nafas lepas.
21
Kuto Besak jadi medan pertempuran,
dinding-dinding mengukir kenangan,
darah para sufi jadi persembahan,
untuk marwah negeri dan keimanan.
22
Perempuan menanak air mata,
menghantar suami dengan kalimat mulia,
“Jika engkau syahid di jalan cinta,
aku ridha, Tuhan jua tempat bersandar jiwa.”
23
Anak-anak memegang lengan ayah,
“Jangan pergi!” suara retak payah,
tapi sang pejuang senyum jernih terarah,
“Anakku, surga tempat ayah berpindah.”
24
Menteng bertubi menyerang dari laut,
tapi rakit Palembang tetap teguh laut,
zikir dan doa jadi pelaut,
menggulung takdir dengan tekad tak surut.
25
Sebagian gugur tak dikenal nama,
hanya tercatat di langit mulia,
malaikat menyambut mereka bersama,
“Selamat datang wahai ahli syahid, terima!”
26
Sejarah menulis dengan tinta luka,
tapi ruh para pejuang tak pernah sirna,
walau jasad tertimbun masa,
getar ratib tetap menghidup jiwa.
27
Datuk Zen sempat dikuburkan sederhana,
di bawah bayang pepohonan sunyi belaka,
lalu dipindah beberapa masa,
kini makamnya dikerumuni doa.
28
Ratib Samman tetap bergema,
tiap malam di surau lama,
sebagai warisan para ulama,
pembakar semangat generasi utama.
29
Wahai anak Palembang bangkitlah,
jangan biarkan sejarah bertiup lelah,
mentari esok jangan kalah,
dari cahaya para mujahid yang pasrah.
30
Perang Menteng bukan sekadar pedang,
tapi ratib jiwa dan niat yang gemilang,
tahlil dan takbir bergema terang,
menyatu dalam alunan ombak Sungai Musi tenang.
Di subuh buta pasukan beratur,
dentum bedil semakin mengatur,
namun hati mujahid tetap teguh dan jujur,
mereka berperang bukan karena harta atau mahkota yang tersulur.
32
“Menteng datang hendak menjajah,” kata Datuk Zen berserah,
“Tapi kita anak Palembang berserah pada Allah,
bila mati itu syahid, bila hidup tetap dakwah.”
33
Maka sebagian menyerang dari rakit,
sungai Musi menjadi saksi sempit,
air berubah merah oleh darah yang terbit,
namun tak padam nyala semangat yang terpaut rapat dan legit.
34
Dari menara masjid bergema azan,
meski meriam membelah awan,
muadzin tak lari dari seruan,
baginya tugas lebih utama dari takut beban.
35
Terlihat perempuan membawa air,
merawat luka dengan tangan getir,
“Jika suami mati jangan kau ngeri mengakhir,
aku ridha dia pulang ke cahaya yang tak berakhir.”
36
Anak-anak membaca al-Fatihah,
sambil menangis menatap darah,
“Ya Allah simpan ayah di taman yang indah,
bila aku besar, turutkan aku di jalan baqah.”
37
Ada bangsawan yang berunding diam,
hendak menyerah pada penjajah tanpa nyam,
tapi Datuk Zen berseru lantang dalam kalam:
“Takkan kusetujui dunia dijual murah dalam malam!”
38
Maka pecahlah benteng pada sore,
tapi Palembang tak hilang gore,
meski api membakar istana dan tore,
hati mujahid tak goyah walau tubuh remuk hancore.
39
Menteng menyangka rakyat tak berdaya,
tak tahu mereka bertarung atas nama Yang Maha Kaya,
pedang dan meriam mudah terbeli saja,
tapi iman dan ratib tak bisa diminta.
40
Di malam terakhir perang berkecamuk,
Datuk Zen rebah dengan wajah teduh memuk,
aroma kasturi mengudara tanpa nuk,
para mujahid tahu waktunya hampir tertutup buku.
41
“Wahai saudara,” ujar Datuk sebelum ruh terbang,
“jangan tangisi aku yang hilang,
hidup di sini hanya tempat berperang,
matiku insyaAllah disambut para wali di ruang terang.”
42
Maka beliau tersenyum sebelum diam,
pelupuk mata tertutup dalam salam,
seisi medan mengucap “Allฤh…” penuh kalam,
sungai dan tanah bersaksi dalam alam.
43
Perang masih berlanjut hingga pagi,
namun tanpa Datuk terasa sunyi,
para mujahid memegang amanah tinggi,
“Syahidnya Datuk jangan kami nodai.”
44
Ada yang membawa panji bertuliskan huruf Arab,
“ูุตุฑ ู ู ๏ทฒ ู ูุชุญ ูุฑูุจ” jadi harab,
mereka serahkan hidup tanpa sebab,
kecuali rindu pada Rabb.
45
Akhirnya Palembang tumbang di perang itu,
namun bukan kalah dalam hajat satu,
sebab ruh jihad tak pernah mati datu,
hanya berganti generasi menuju waktu.
46
Belanda menjarah dan membakar kota,
tapi tak dapat menggenggam jiwa,
jasad mungkin hilang di dunia,
namun semangat tetap menyala dalam nadi bangsa.
47
Datuk Zen dimakamkan tanpa tabir mewah,
tanah merah jadi saksi ibadah,
kemudian dipindah beberapa arah,
kini diziarahi generasi penuh marwah.
48
Banyak yang gugur tanpa nama tertulis,
hanya tercatat di Lauhul Mahfuz yang manis,
malaikat menyambut mereka di tempat yang bersih,
“Selamat wahai pejuang, jalanmu tak berbalik lagi ke sisih.”
49
Ratib Samman terus bergema di surau lama,
tiap malam menghidupkan jiwa utama,
syair Perang Menteng jadi cahaya bersama,
agar tak pudar marwah umat selama-lama.
50
Wahai anak cucu Palembang, dengarkan pesan,
jangan tunduk pada penjajah zaman,
ilmu dan iman jadikan bekalan,
agar tak berulang negeri jatuh tanpa pertahanan.
51
Jika datang era baru menjajah pikiran,
hanya dengan zikir mampu lawan arus zaman,
ratib dan ilmu bersatu jadi pedang keimanan,
seperti Datuk Zen di medan peperangan.
52
Perang Menteng bukan sekadar cerita,
tapi risalah tentang harga cinta,
bahwa mati syahid adalah jalan utama,
menuju kasih Tuhan tanpa jeda.
53
Maka kututup syair ini dengan doa,
semoga ruh para mujahid tetap sejahtera,
kami yang hidup menjadi penerus cita,
tegak melawan penjajahan apa pun rupa.
54
Jika air Musi kembali beriak merah,
ingatlah itu bukan sekadar darah,
tetapi sumpah para syuhada nan pasrah,
menjaga tanah Palembang agar tak musnah.
55 (penutup)
Selasai syair Perang Menteng kuhulur,
semoga dibaca dengan hati yang luhur,
sejarah bukan abu yang berselubur,
tapi api perjuangan untuk zaman yang makmur.
---
Ulama Palembang : Datuk Kiagus Muhammad Zen (W.1819)
Masih mengenang hari Pahlawan di bulan November ini, berikut kita ulas salah satu Pahlawan Palembang tempo dulu di zaman sebelum kemerdekaan, di tahun 1819 M, zaman Kesultanan Palembang Darussalam.
Berikut rangkuman dan analisis tentang Datuk Kiagus Muhammad Zen (w. 1819) berdasarkan informasi yang tersedia:---
DATUK KIAGUS MUHAMMAD ZEN (W.1819)
Nama lengkap: Kiagus (Kgs.) Haji Muhammad Zen, juga dikenal sebagai Syekh Zen atau Datuk Zen.
Nasabnya: menurut sumber, ia adalah cucu Tuan Faqih Jalaludin (ulama besar Keraton Palembang).
Gurunya adalah Syekh Abdus Somad al-Palembani; ia juga menikahi putri gurunya, Rukiah binti Abdus Somad.
Ia memperoleh ijazah dari Tarekat Sammaniyah dari gurunya, Syekh Abdus Somad.
Selain sebagai ulama, ia juga seorang pemimpin sufistik (“pahlawan sufi”) dan figur spiritual di Palembang.
Ia terlibat dalam Perang Menteng (Perang Palembang) melawan Belanda pada 1819.
Syekh Zen wafat pada 12 Juli 1819 (18 Sya’ban 1234 H).
Disebut “gugur sebagai syahid” karena pada saat perang dia mengumandangkan #Ratib_Samman dan jihad untuk membela agama dan negara.
Menurut catatan sejarah lokal, sebagai komandan atau pemimpin pasukan ulama saat perang.
4. Penghargaan dan Persepsi
Karena perannya sebagai ulama dan pejuang spiritual serta militer, banyak yang menilai ia pantas disebut pahlawan nasional.
Komunitas Pecinta Ziarah Palembang (KOPZIPS) aktif menziarahi makamnya dan menyerukan agar makam-makam bersejarah seperti makam Syekh Zen dilindungi.
Makam Syekh Zen terletak di Talang Suro, Palembang, sekitar area Langgar Cahaya Islam.
Namun, jejak fisik makam dikabarkan sudah hilang karena pemukiman warga yang berkembang di sekitar area makam.
KOPZIPS menyatakan akan melaporkan ke Dinas Kebudayaan agar makam tersebut bisa dilindungi sebagai situs bersejarah.
Ada syair historis yang dikenal sebagai “Syair Perang Menteng” atau “Syair Perang Palembang” yang menggambarkan peperangan tahun 1819 melawan Belanda.
Syair ini bagian dari tradisi sastra sejarah dan dijadikan semangat moral dan religius dalam konflik Perang Menteng.
Dalam jurnal sejarah Islam, disebut bahwa karya sastra seperti Syair Perang Menteng memiliki nilai budaya dan historis penting.
---
Makna dan Signifikansi
Ia menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme Belanda di Palembang, sekaligus tokoh yang mengikat dimensi religius dan politik.
Hubungannya dengan tarekat Sammaniyah menunjukkan bahwa perjuangannya tak cuma bersifat duniawi, tetapi juga rohani — banyak yang mengingatnya sebagai seorang waliyullah.
Hilangnya makam fisik menunjukkan tantangan dalam pelestarian situs bersejarah di Palembang — terutama yang berkaitan dengan tokoh-tokoh ulama dan pejuang lokal.
Syair Perang Menteng mengabadikan kisah peperangan tersebut dalam bentuk sastra tradisional, yang memperkuat narasi identitas lokal dan religius masyarakat Palembang.
#DatukKiagusMuhammadZen #UlamaSufi #PahlawanSufi #MujahidSpiritual #PahlawanPalembang #Martir #SimbolPerlawananLokal #SastraTradisional #NarasiIdentitasLokal
Ulama Palembang : Tuan Faqih Jalaluddin IW.1748)
Tuan Faqih Jalaluddin (Wafat: 18 Mei 1748 M / 20 Jumadil Awal 1161 H)
Wafat dan Peninggalan
Jumat, 21 November 2025
(Puisi) : "Sepasang Cangkir, Sepasang Rasa".
#puisicangkir
#puisisepasangcangkir #puisipagi
#puisi #puisisepasangrasa
Sepasang Cangkir, Sepasang Rasa
Di atas meja pagi yang masih basah oleh embun,
dua cangkir berdiri saling menghadap —
yang satu hitam, sederhana, sepi,
yang satu putih, dipeluk gambar hati merah
seperti dada yang tak mampu menyembunyikan rindu.
Keduanya penuh, mendidih oleh aroma
yang menguap perlahan ke langit-langit sunyi,
seolah mengabarkan bahwa cinta
kadang datang seperti secangkir kopi —
panas, pekat, dan tak bisa disesap tergesa.
Cangkir hitam bicara tentang luka yang diam,
tentang malam-malam panjang tanpa pelukan,
sementara cangkir putih tersenyum
membawa janji pada setiap getar senyapnya:
bahwa ada rasa yang tetap manis
meski dalam campuran paling gelap sekali pun.
Uap mereka berpaut di udara,
menjadi tarian tanpa suara,
mengajariku bahwa dua rasa berbeda
tak harus saling menghapus,
karena dalam pertemuan hangat
bahkan pahit dan manis dapat berpelukan.
Dan pagi itu pun tahu,
bahwa cinta tak perlu selalu seragam,
cukup saling mengisi seperti dua cangkir kopi —
yang satu hitam, yang satu putih bergambar hati merah,
namun keduanya tetap utuh
dalam setiap hirupan pertama.
---
Senin, 17 November 2025
Sumsel : Ruang yang Tumpang Tindih, Alam yang Menjerit
Sumatera Selatan: Ruang yang Tumpang Tindih, Alam yang Menjerit
Oleh : Yoel Hendrawan - Wahana Bumi Hijau
Disampaikan pada Pelatihan Kepemimpinan WALHI (PKW 2) ED WALHI SUMSEL
Palembang, 14 November 2025
“Bumi tidak sedang membutuhkan belas kasihan kita, melainkan keadilan dari tangan-tangan yang menguasai ruangnya.” — Nur Hidayati, Aktivis Lingkungan
1. Overlapping Pemanfaatan Ruang di Sumatera Selatan
Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) merupakan salah satu wilayah dengan intensitas tumpang tindih pemanfaatan ruang paling tinggi di Indonesia. Berdasarkan Fact Sheet WALHI & WBH 2024, ketidaksinkronan tata ruang ini mengakibatkan kerentanan ekologis, konflik agraria, dan degradasi sumber daya alam yang masif.
1.1 Overlapping Izin Usaha Perkebunan dengan IUPHHK
Di sejumlah kabupaten seperti Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Banyuasin, izin usaha perkebunan (IUP) sawit menumpang pada area yang telah lebih dahulu memiliki izin pemanfaatan hasil hutan kayu (IUPHHK). Konflik spasial ini memicu ketegangan antara perusahaan pemegang izin, masyarakat adat, dan negara. Akibatnya, banyak wilayah yang semestinya menjadi kawasan konservasi berubah fungsi menjadi areal produksi intensif.
1.2 Overlapping IUP terhadap Fungsi Kawasan Hutan
Sekitar 25% dari total luas izin perkebunan di Sumsel tumpang tindih dengan kawasan hutan produksi terbatas atau hutan lindung. Hal ini mengindikasikan lemahnya penegakan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) dan lemahnya verifikasi spasial sebelum penerbitan izin baru.
1.3 Overlapping IUPHHK dan PHBM terhadap Fungsi APL
Fenomena lain adalah tumpang tindih izin kehutanan (IUPHHK dan PHBM) dengan area penggunaan lain (APL) yang sebenarnya sudah menjadi ruang hidup masyarakat desa. Kondisi ini sering kali memunculkan konflik antara program perhutanan sosial dan kepentingan korporasi kayu atau HTI (Hutan Tanaman Industri).
“Ketika ruang hidup rakyat ditulis di atas peta tanpa kaki mereka menjejak tanah, maka konflik adalah keniscayaan.” — Rustandi, WALHI Sumsel
2. Perkembangan Izin Usaha Pertambangan di Sumsel
Sumatera Selatan memiliki lebih dari 400 izin usaha pertambangan (IUP), dengan dominasi batu bara. Konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Muara Enim, Lahat, dan Musi Rawas. Meski kontribusi sektor ini terhadap PDRB cukup signifikan, dampak ekologisnya sangat besar: sedimentasi sungai, pencemaran air, dan degradasi tanah meningkat drastis.Banyak IUP juga tumpang tindih dengan izin kehutanan dan perkebunan, memperparah ketidakteraturan pengelolaan ruang.
3. Perkembangan Izin Perkebunan di Sumsel
Total izin perkebunan di Sumsel mencapai lebih dari 1,8 juta hektare, dengan dominasi kelapa sawit. Ekspansi besar-besaran ini berlangsung sejak awal 2000-an. Meski membawa pertumbuhan ekonomi daerah, dampak sosial-ekologisnya tidak dapat diabaikan: konflik lahan, kebakaran hutan, dan penurunan kualitas tanah terus meningkat. (Fact Sheet WBH 2024).
4. Perkembangan Izin Konsesi Pemanfaatan Hasil Hutan
Konsesi IUPHHK-HTI dan HPH di Sumsel mencapai lebih dari 1,5 juta hektare. Sebagian besar dikuasai oleh korporasi besar dengan orientasi ekspor. Di sisi lain, program perhutanan sosial yang bertujuan untuk menyeimbangkan akses masyarakat baru mencakup ±450 ribu hektare, atau kurang dari 20% dari total luas kawasan hutan produktif.
5. Laju Deforestasi di Sumsel
Data Fact Sheet WALHI 2024 mencatat bahwa laju deforestasi Sumsel mencapai lebih dari 25 ribu hektare per tahun selama dekade terakhir. Sebagian besar terjadi di kawasan hutan produksi dan areal perkebunan yang mengalami konversi. Dampak lanjutannya berupa hilangnya keanekaragaman hayati dan meningkatnya risiko kebakaran lahan gambut.
“Hutan yang hilang bukan hanya pohon yang tumbang, tapi juga sejarah, air, dan napas kehidupan manusia.” — Emilia, Pegiat Ekologi Sosial
6. Fungsi Kawasan Hutan dan Perairan di Sumsel
Fungsi kawasan hutan di Sumsel terbagi atas hutan lindung, hutan konservasi, dan hutan produksi. Namun, realitas lapangan menunjukkan bahwa banyak kawasan hutan lindung telah berubah menjadi lahan produksi sawit atau tambang. Selain itu, wilayah perairan seperti DAS Musi mengalami tekanan akibat sedimentasi dan pencemaran limbah tambang.
7. Sebaran dan Simpanan Karbon dalam Gambut di Sumsel
Sumatera Selatan memiliki lahan gambut sekitar 1,2 juta hektare yang menyimpan cadangan karbon besar (sekitar 7 gigaton CO₂). Wilayah gambut terluas terdapat di OKI dan Banyuasin. Eksploitasi untuk perkebunan dan HTI menyebabkan emisi karbon besar-besaran, menjadikan Sumsel salah satu penyumbang signifikan emisi nasional.
8. Perkembangan Izin di Lahan Gambut
Peningkatan izin di lahan gambut terus terjadi, baik untuk sawit maupun HTI. Padahal, sesuai dengan PP No. 71 Tahun 2014, lahan gambut dengan fungsi lindung seharusnya tidak dibuka. Fakta di lapangan menunjukkan sekitar 40% area gambut di Sumsel telah mengalami drainase dan subsiden.
9. Sebaran Kondisi Desa di Dalam dan Sekitar Kawasan Hutan
Terdapat lebih dari 1.000 desa di Sumsel yang berada di dalam dan sekitar kawasan hutan. Sebagian besar memiliki ketergantungan tinggi terhadap sumber daya hutan, namun menghadapi keterbatasan akses dan hak kelola. Ketimpangan ini menimbulkan kerentanan sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
10. Perkembangan Izin Usaha Perkebunan di Sumsel (Ulangan untuk Tren dan Analisis)
Tren terbaru menunjukkan adanya pergeseran kepemilikan dan penggabungan perusahaan besar dalam sektor sawit. Pola ini mengindikasikan konsolidasi korporasi yang semakin mempersempit ruang ekonomi rakyat.
11. Grafik Jumlah Hotspot per Kabupaten
Berdasarkan data satelit 2024, hotspot tertinggi berada di Kabupaten OKI, Banyuasin, dan Musi Banyuasin. Puncak kebakaran terjadi pada bulan September hingga Oktober dengan pola berulang tiap tahun.
12. Grafik Jumlah Hotspot di Lokasi Perizinan dan di Luar Perizinan
Analisis menunjukkan bahwa lebih dari 70% titik api terjadi di area berizin, terutama di perkebunan dan HTI. Hal ini menandakan lemahnya pengawasan serta tanggung jawab korporasi dalam pengelolaan lahan.
13. Dampak dari Kondisi di Lapangan
Akibat tumpang tindih izin dan lemahnya tata kelola, dampak sosial-ekologis meluas:
Konflik agraria meningkat.
Penurunan kualitas air sungai.
Emisi karbon tinggi dari kebakaran gambut.
Hilangnya sumber penghidupan masyarakat adat dan petani.
14. Rekomendasi Pengelolaan SDA ke Depan
Moratorium izin baru di kawasan hutan dan gambut.
Peninjauan ulang RTRW dan harmonisasi izin antar-sektor.
Penguatan perhutanan sosial berbasis masyarakat.
Penegakan hukum bagi korporasi pelanggar lingkungan.
Transparansi data izin dan keterlibatan publik dalam pengawasan.
15. Upaya Pencegahan Kebakaran di Lahan Gambut
Upaya strategis perlu difokuskan pada restorasi hidrologis, pemberdayaan Masyarakat Peduli Api (MPA), serta penegakan hukum tegas terhadap pembakar lahan. Selain itu, pembatasan izin di areal gambut kritis harus menjadi prioritas kebijakan daerah.
16. Penutup
“Menyelamatkan alam Sumatera Selatan bukan hanya urusan aktivis, tetapi panggilan bagi seluruh manusia yang mencintai kehidupan.” — Y. Hendrawan, Wahana Bumi Hijau
Sumatera Selatan berdiri di persimpangan sejarah: antara mempertahankan ruang hidup atau menyerah pada kerakusan izin yang tumpang tindih. Masa depan daerah ini akan sangat ditentukan oleh keberanian kolektif kita untuk menata ulang ruang, memulihkan hutan, dan menegakkan keadilan ekologis.
Catatan Kaki:
Fact Sheet WALHI Sumsel & Wahana Bumi Hijau 2024.
PP No. 71 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut.
Data Hotspot KLHK 2024.
Manaqib Datu Sanggul
Manaqib Datu Sanggul Datu Sanggul adalah salah seorang ulama besar sufi dan seorang yang khawwash, selain mempunyai ilmu yang tinggi ia juga...
-
Sekarang kita memasuki bab paling halus dan rahasia dalam seluruh jalan tasawuf, yaitu MAQฤM FANฤ’ dan BAQฤ’ (ู ูุงู ุงูููุงุก ูุงูุจูุงุก) — lenyap ...
-
Baik ๐ฟ Mari kita lanjutkan dengan penjelasan tahap demi tahap perjalanan ruhani (แนญarฤซq as-sulลซk) sebagaimana diuraikan oleh para ulama suf...
-
______________ Dalam tradisi tasawuf, perjalanan menuju Allah SWT merupakan suatu proses bertahap yang dikenal sebagai thariq (jalan). Di ...





